SEJARAH
BIOGRAFI GUSDUR
Abdurrahman Addakhil adalah tokoh
Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang
keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia adalah ketua Nahdlatul Ulama dan
pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Wahid menggantikan Presiden B. J.
Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Masa kepresidenan yang
dimulai pada 20 Oktober 1999 berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001.
Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.
Abdurrahman Wahid menyelenggarakan pemerintahan dengan dibantu oleh Kabinet
Persatuan Nasional.
Kehidupan awal
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya’ban, sama dengan 7 September 1940.
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya’ban, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman
Addakhil. “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”. Kata “Addakhil” tidak cukup
dikenal dan diganti nama “Wahid”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan
Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak
kiai yang berati “abang” atau “mas”.
Gus Dur adalah putra pertama dari
enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam
komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah Hasyim Asyari, pendiri
Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, Bisri Syansuri, adalah
pengajar Muslim pertama yang mengajarkan kelas pada wanita[2]. Ayah Gus Dur,
Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi menteri Agama tahun
1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar
Jombang.
Gus Dur secara terbuka pernah
menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia
adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara
kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan
Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan
selir Raden Brawijaya V.[4] Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian
seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh
Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.
Pada tahun 1944, Wahid pindah dari
Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terlibat dengan Partai Majelis Syuro
Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang didirikan oleh tentara Jepang
yang saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia
tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada disana
selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir perang tahun
1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.
Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD
Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan
koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Gus Dur terus tinggal di
Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama
pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan
mobil.
Pendidikan Wahid berlanjut dan pada
tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik
kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan
pendidikannya. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke
Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia
mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan
pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959,
Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara
melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan
pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur
juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya
Jaya.
Pendidikan di luar negeri
Pada tahun 1963, Wahid menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh Universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.
Pada tahun 1963, Wahid menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh Universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.
Abdurrahman Wahid menikmati hidup di
Mesir pada tahun 1964; menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton sepak
bola. Wahid juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi
jurnalis majalah asosiasi tersebut. Pada akhir tahun, ia berhasil lulus kelas
remedial Arabnya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab
tahun 1965, Gus Dur kecewa. Ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan
dan menolak metode belajar yang digunakan Universitas
Di Mesir, Wahid dipekerjakan di
Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September
terjadi. Mayor Jendral Suharto menangani situasi di Jakarta dan upaya
pemberantasan Komunis dilakukan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan
Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap
pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah
ini diberikan pada Wahid, yang ditugaskan menulis laporan.
Wahid mengalami kegagalan di Mesir.
Ia tidak setuju akan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S sangat
mengganggu dirinya. Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang
belajar. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di
Universitas Baghdad. Wahid pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya.
Meskipun ia lalai pada awalnya, Wahid dengan cepat belajar. Wahid juga
meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menulis
majalah asosiasi tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikannya
di Universitas Baghdad tahun 1970, Abdurrahman Wahid pergi ke Belanda untuk
meneruskan pendidikannya. Wahid ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi
kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Belanda,
Wahid pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.
Karir awal
Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang disebut Prisma dan Wahid menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Wahid juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Wahid merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini. Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Wahid memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.
Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang disebut Prisma dan Wahid menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Wahid juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Wahid merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini. Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Wahid memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.
Abdurahman Wahid meneruskan
karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas.
Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai
komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk
memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta
dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.
Meskipun memiliki karir yang sukses
pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber
pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual
kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya. Pada
tahun 1974, Wahid mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di
Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi baik. Satu tahun
kemudian, Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.
Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke
Universitas Hasyim Asyari sebagai dean Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam.
Sekali lagi, Wahid mengungguli pekerjaannya dan Universitas ingin agar Wahid
mengajar subyek tambahan seperti pedadogi, Syariat Islam dan misiologi. Namun,
kelebihannya menyebabkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan
universitas dan Wahid mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subyek tersebut.
Sementara menanggung semua beban tersebut, Wahid juga berpidato selama ramadhan
di depan komunitas Muslim di Jombang.
Nahdlatul Ulama
Awal keterlibatan
Latar belakang keluarga Wahid segera berarti. Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga [10]. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap disana. Sebagai anggota Dewan Penasehat Agama, Wahid memimpikn dirinya sebagai reforman NU.
Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya. Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jendral Benny Moerdani.
Latar belakang keluarga Wahid segera berarti. Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga [10]. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap disana. Sebagai anggota Dewan Penasehat Agama, Wahid memimpikn dirinya sebagai reforman NU.
Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya. Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jendral Benny Moerdani.
Mereformir NU
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasehat Agama akhirnya membentum Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan keketuaan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu berkata bahwa ia permintaan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid, bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasehat Agama akhirnya membentum Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan keketuaan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu berkata bahwa ia permintaan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid, bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.
Pada tahun 1983, Soeharto dipilih
kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai
Ideologi Negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Wahid menjadi bagian dari
kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut.
Wahid berkonsultasi dengan bacaan seperti Quran dan Sunnah untuk pembenaran dan
akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila
sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Wahid juga
mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini dilakukan sehingga NU
dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam
politik.
Terpilih sebagai ketua dan masa jabatan pertama
Terpilih sebagai ketua dan masa jabatan pertama
Reformasi Wahid membuatnya sangat
populer di kalangan NU. Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang
mulai menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua baru
NU. Wahid menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh
untuk memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Wahid terpilih
sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional
tersebut. Namun demikian, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para
pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota
Wahid sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggu NU termasuk Ketua
PBNU sebelumnya, Idham. Wahid sebelumnya telah memberikan sebuah daftar kepada
Panitia Munias yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun demikian, Panitia
Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama
sekali berbeda kepada para peserta Munas.
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif
oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan
dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada
tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila. Pada tahun
1987, Abdurrahman Wahid menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim
tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan
memperkuat Partai Golkar Suharto. Ia menerima hadiah dalam bentuk keanggotaan
MPR. Meskipun ia disukai oleh rezim, Wahid mengkritik pemerintah karena proyek
Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Meskipun hal ini mengasamkan
hubungan Wahid dengan pemerintah, Suharto masih mendapat dukungan politik dari
NU.
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.] Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyedikan interpretasi teks Muslim. Kritik menuduh Gus Dur mengharapkan merubah salam Muslim “assalamualaikum” menjadi salam sekular “selamat pagi”.
Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru
Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989.
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.] Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyedikan interpretasi teks Muslim. Kritik menuduh Gus Dur mengharapkan merubah salam Muslim “assalamualaikum” menjadi salam sekular “selamat pagi”.
Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru
Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989.
Kepresidenan
Perjalanan
Kepresidenan Gus Dur terkenal akan perjalanan jarak jauhnya, termasuk ke tempat-tempat kontroversial. Pada November 1999, Wahid mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok.
Kepresidenan Gus Dur terkenal akan perjalanan jarak jauhnya, termasuk ke tempat-tempat kontroversial. Pada November 1999, Wahid mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok.
Pada Januari 2000, Gus Dur melakukan
perjalanan keluar negeri lainnya ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia
dan mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang menuju Indonesia. Pada
Februari, Wahid melakukan perjalanan luar negeri ke Eropa lainnya dengan
mengunjungi Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Dalam perjalanan
pulang dari Eropa, Gus Dur juga mengunjungi India, Korea Selatan, Thailand, dan
Brunei Darussalam. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Timur. Di bulan
April, Wahid mengunjungi Afrika Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk
menghadiri pertemuan G-77, sebelum kembali melewati Kota Meksiko dan Hong Kong.
Pada bulan Juni, Wahid sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Perancis
dengan Iran, Pakistan, dan Mesir sebagai tambahan baru ke dalam daftar
negara-negara yang dikunjunginya.
Wahid juga mengunjungi Irian Jaya dan Aceh, provinsi Indonesia yang memiliki banyak gerakan separatis, yang mengundang kontroversi. Salah satu ucapan Gus Dur yang kontroversial (tanpa konsultasi dengan sejarawan) adalah bahwa penamaan Irian pada provinsi Irian Jaya merupakan sikap merendahkan masyarakat papua karena kata Irian sama artinya berarti (maaf) kelamin. Padahal menurut sejarah penyebutan kata Irian untuk mengganti sebutan papua pertama kali diucapkan oleh Frans Kasiepo tokoh pejuang pembebasan Irian Barat asli papua yang merupakan singkatan “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” untuk menunjukkan tekad bangsa papua bergabung ke dalam NKRI. Gusdur juga menimbulkan kontroversi dengan kunjungannya ke Israel, negara yang tidak disukai banyak orang Indonesia.
Wahid juga mengunjungi Irian Jaya dan Aceh, provinsi Indonesia yang memiliki banyak gerakan separatis, yang mengundang kontroversi. Salah satu ucapan Gus Dur yang kontroversial (tanpa konsultasi dengan sejarawan) adalah bahwa penamaan Irian pada provinsi Irian Jaya merupakan sikap merendahkan masyarakat papua karena kata Irian sama artinya berarti (maaf) kelamin. Padahal menurut sejarah penyebutan kata Irian untuk mengganti sebutan papua pertama kali diucapkan oleh Frans Kasiepo tokoh pejuang pembebasan Irian Barat asli papua yang merupakan singkatan “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” untuk menunjukkan tekad bangsa papua bergabung ke dalam NKRI. Gusdur juga menimbulkan kontroversi dengan kunjungannya ke Israel, negara yang tidak disukai banyak orang Indonesia.
Penghargaan
Wahid ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.
Wahid ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.
Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia
dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.
Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan
Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan
kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di
Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari
budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni,
dan Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan
23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para
wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu. Seorang wartawan mengatakan
bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi,
ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti,
mantan Ketua Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan
menanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.
Ia mendapat penghargaan dari Simon
Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi
Manusia yang awalnya merupakan organisasi untuk mengejar tokoh nazi Jerman yang
bertanggung jawab atas pembantaian jutaan warga Yahudi di Eropa. Wahid mendapat
penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang
peduli terhadap persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor
yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela
kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia
dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Wahid
juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai
nama nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar